Seorang penulis Amerika Bill Gothard mengatakan setiap pagi ia membiasakan diri merendahkan dirinya dalam doa kepada Tuhan. Dalam doa ia mengakui kelemahan dan ketidaklayakannya. Bill Gothard mengatakan, "Bila Saya tidak merendahkan diri maka akan ada orang yang dengan senang hati akan merendahkan saya ". Daripada direndahkan lebih baik kita merendahkan diri di hadapan Tuhan.
Pelajaran yang sukar adalah tentang bagaimana hidup dengan rendah hati. Di antara semua karunia, karendahan hati adalah karunia yang paling istimewa. Tuhan selalu memberkati orang yang paling rendah hati.
Tuhan meminta kita belajar padaNya, tapi Tuhan tidak bilang: “Aku ini intelektual paling top, Aku melakukan mujizat yang luar biasa. Aku menunjukakan kuasa hebat dalam ribuan bentuk.” Tuhan tidak menonjolkan diri secara berlebihan. Yang terjadi adalah seperti kata Firman , Yesus mengatakan bahwa Ia: “…lemah lembut dan rendah hati…” (Matius 11:29).
Ada 3 tokoh yang menonjol dalam alkitab karna rendah hati, yakni: Yesus, Musa dan Stefanus. Wajah mereka bercahaya, kata alkitab. Bila ingin wajah anda bersinar, harus turun ke dalam lembah kerendahan hati, harus merendahkan diri di hadapan Allah.
Sangat sukar turun ke dalam lembah kerendahan hati, tapi kalau sudah sampai di sana, sangat subur, berhasil guna dan indah. Hampir semua orang yang tidak beriman pun kagum kepada orang yang lembut dan rendah hati.
Ada orang yang bertanya kepada tokoh gereja Agustinus tentang apa karunia iman yang terutama. Dia menjawab yang pertama: rendah hati. Kedua: rendah hati. Ketiga: rendah hati.
Puncak-puncak gunung yang tinggi dibasahi hujan, tetapi air hujan selalu membuat puncak gunung tandus, karna air itu akan mengalir ke tempat yang rendah, membawa humus dan menyuburkan lembah-lembah. Bila seseorang ditinggikan dan bermegah, sungai karunia mungkin mengalir didalamnya, tapi kemudian meninggalkannya dalam keadaan tandus dan tak menghasilkan buah. Sementara itu, sungai karunia membawa berkat kepada orang yang sudah merendahkan hati dalam karunia Allah.
Burung yang terbang membumbung tinggi, membangun sarang di tempat yang rendah. Cabang pohon yang dipenuhi buah, tangkainya merendah. Padi yang bernas, bulirnya merunduk. Demikian pula orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman, mereka adalah orang-orang yang paling rendah hati.
Banyak tokoh iman dalam alkitab menonjol karna mereka rendah hati. Yohanis Pembaptis, Raja Daud, Yusuf dan terutama Yesus.
Bintang pagi memudar ketika matahari terbit.
Kita harus bersedia menjadi kecil, supaya Yesus semakin besar dalam hidup kita. Kita harus bersedia menjadi orang yang rendah hati, yang egonya direndahkan, agar Tuhan ditinggikan dalam hidup kita. Orang yang memiliki ego besar susah meninggikan Tuhan dalam hidupnya, walau ia sering mengucapkan nama Tuhan.
Coba kita introspeksi diri. Apakah kita sudah hidup dengan rendah hati, atau terlambat merendahkan hati? Apakah selama ini kita berusaha memperoleh posisi besar dalam hidup dan mengecilkan Tuhan dan sesama? Apakah kita sering tersinggung dan diperlakukan tidak pantas? Bila semua jawabannya ya, berarti kita belum memiliki sifat Kristus.
Selain sifat taat, karakter yang paling menonjol dari Yesus adalah sifat rendah hati. Ia taat karna Ia rendah hati. Ia adalah Tuhan, tapi rela merendahkan diri, menjadi sama dengan manusia, sebagai seorang hamba. Ia merendahkan diri dan taat sampai mati di atas kayu salib (Filipi 2:9).
KelahiranNya yang sederhana, penyerahanNya kepada orangtuaNya di dunia, keakrabanNya dengan orang sakit, miskin dan terbuang, kebergantunganNya kepada Bapa di sorga dan mau disiksa sampai akhirnya mati di salib, semua menonjolkan kerendahhatian Yesus.
AjaranNya juga penuh soal hidup rendah hati:
1. jika kalian ingin menjadi besar, jadilah seperti anak kecil, dan siapa yang ingin menjadi yang terbesar harus menjadi hamba dari semua. Ini bisa terjadi kalau orang mau rendah hati. Banyak orang menganggap diri tinggi dan lebih baik dari orang lain.
2. Pada kesempatan lain, Yesus membasuh kaki murid-muridNya. “Kamu menyebut Aku Tuhan, dan katamu itu tepat. Jika kami ingin menjadi besar dalam kerajaanku, jadilah pelayan dari semua.” Bersedia menjadi pelayan dari yang lain, itu tentu baru bisa terjadi bila orang mau rendah hati .
Sifat rendah hati perlu ditekankan, karna sikap rendah hati adalah suatu pengakuan, bahwa tanpa Tuhan kita bukan siapa-siapa, kita bukan apa-apa. Siapapun kita, kita hanyalah ranting dari sebuah pohon. Yesuslah pohon dan kita adalah ranting-rantingNya. Ranting yang mau dan bisa berbuah harus melekat pada pohon. Makanan mengalir dari dari pohon ke ranting. Kekuatan mengalir ke dalam hidup kita dari Yesus.
Kalau berbuah lebat, ranting tidak bisa bilang: “O, ini buah dari ranting”, tapi yang dikatakan adalah bahwa: “O, ini buah dari pohon.”
Kita bisa kuat, tapi kalau Tuhan tidak beri kesehatan, kita ini jadi apa?
Dengan hidup rendah hati, sudah pasti akan diberkati, apa pun posisi hidup kita.
Tentang sikap rendah hati, seseorang yang bernama Tomas dari Villanova berkata: “Kerendahan hati adalah ibu dari banyak hal utama. Dari kerendahan hati memancar ketaatan, takut akan Allah, hormat, kesabaran, kesederhanaan, lemah lembut dan damai. Sebab barangsiapa rendah hati, akan dengan mudah menjadi orang yang taat, takut menyakiti orang lain, memelihara hidup damai dengan semua orang, ramah kepada siapa saja, suka mengalah, tidak meremehkan atau menjengkelkan siapapun, tidak merasa terhina atas penghinaan yang ditimpakan kepadanya, Ia bahagia dan puas, dan dalam damai tenang.”
“Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.” (Mazmur 25:9)
Tuhan memberkati kita senantiasa. Amin.
Selasa, 18 April 2017.
Salam kasih,
Paul A. Elliek

Tidak ada komentar:
Posting Komentar