Beranjak dari Kupang menuju utara Amfoang seratus mil lebih harus kita tempuh. Melintasi jalan berbatu, menerobos sungai-sungai, jejeran desa dan kampung tradisional, melewati semak hutan tropis juga jalanan berdebu. Sekujur tubuhmu tak bertahan bila tak terbiasa. Diantara sekian fenomena yang ditemui, kau akan terkesan bila merapat ke bentangan alam yang unik, sebuah kampung bernama Elan.
Elan bak negeri dongeng. Terpencil ditengah rimba, jauh di atas ketinggian di bahagian barat daya gunung Timau, salah satu gunung tertinggi di Pulau Timor.
Elan sungguh sukar dijangkau karna selalu diliputi kabut puncak gunung.
Cahaya matahari hanya bias sinar dibalik ketebalan awan dan kabut. Alam begitu temaram. Margasatwa dan suku terasing hidup damai tapi kabut abadi menjadi tirai misteri.
Ada jalan mendaki kesana berupa tangga batu yang dipahat entah oleh tangan siapa dan pada jaman apa. Sekilas seperti jalan para raja purba.
Lintas jalan begitu sempit, hanya cukup untuk seorang pendaki. Di sebelah kira kanan hanya bayang jurang dalam yang menganga. Siap menelan setiap apapun yang terperosok. Kengerian yang mencekam direduksi bayang kabut.
Tak banyak orang luar yang pernah
kesana, kecuali orang-orang tertentu
yang memahami rahasia eksotika Elan. Bahkan di masa lalu penjajah Belanda dan Jepang pun tak pernah menjejaki Elan. Sampai kini Elan menjadi kisah unik sebuah kampung di masa modern yang tetap terasing dan misteri...
Naikliu, 27 Oktober 2010
Paul A. Elliek
Tidak ada komentar:
Posting Komentar